Makna Tradisi Bebalon Pada Pernikahan Suku Tidung di Kota Tarakan (Kajian Semiotika)

Endang Sahriyani

Abstract


Abstrack
This study aims to determine the meaning of the bebalon tradition in Tidung marriages in the city of Tarakan in the study of semiotics. This type of research is a descriptive qualitative research. The data obtained in this study were in the form of answers or presentations of interview results delivered orally by interviewed informants. Sources of data in this study are informants who have knowledge of the Tidung wedding tradition, especially the bebalon tradition. Data collection uses interview, record, listen and note techniques. The presentation of the data is in the form of descriptive analysis by analyzing the data in tabular form and then parsing the data in the form of the meaning contained in the actions and utterances contained in the bebalon tradition of Tidung weddings which are analyzed using Peirce's theory, namely the semiotic triangel (sign, object, interpretant). The results of the research conducted can be concluded that bebalon itself has the meaning of clap. There are 2 data in the form of actions and speech in each series of processions from the bebalon tradition which has meaning consisting of 1 data in the form of action and 1 in the form of speech.
Keywords: Meaning, Semiotics, Bebalon, Tidung Tribe
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna tradisi bebalon pada pernikahan suku Tidung di kota Tarakan kajian semiotika. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriftif. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa jawaban atau pemaparan hasil wawancara yang disampaikan secara lisan oleh informan yang diwawancarai. Sumber data dalam penelitian ini adalah informan yang memiliki pengetahuan tentang tradisi pernikahan suku Tidung khususnya tradisi bebalon. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, rekam, simak dan catat. Penyajian data berupa analisis deskriftif dengan menganalisis data dalam bentuk tabel kemudian melakukan penguraian data berupa makna yang terdapat pada tindakan dan tuturan yang terdapat pada tradisi bebalon pada pernikahan suku Tidung yang dianalisis dengan menggunakan teori Peirce yaitu segitiga semiotik (sign, object, interpretant). Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa bebalon sendiri memiliki arti bertepuk. Terdapat 2 data yang berupa tindakan serta tuturan dalam setiap rangkaian prosesi dari tradisi bebalon yang memiliki makna yang terdiri atas 1 data berbentuk tindakan dan 1 berbentuk tuturan.
Kata Kunci: Makna, Semiotika, Bebalon, Suku Tidung


Full Text:

PDF

References


Arikunto, Suharsimi. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Vera, Nawiroh. (2015). Semiotika dalam Riset Komunikasi. Bogor: Galia Indonesia.

Wibowo, Indiawan. (2013). Semiotika Komunikasi Aplikasi Praktis Bagi Penelitian dan Skripsi Komunikasi, Yogyakarta: Tiara Wacana.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Contact Person:

Achmad Dicky Romadhan, M.Hum
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia
Universitas Borneo Tarakan
Jalan Amal Lama No 1
Tarakan, Kalimantan Utara
Hp: 081214732113